Starting Point
Tepat 10 tahun sejak hari pertama bekerja, tulisan ini menjadi titik awal alasan memulai menulis, sebagai dokumentasi yang selama ini tidak pernah tercatat dengan rapi.
Tepat 10 tahun sejak hari pertama bekerja, tulisan ini menjadi titik awal alasan memulai menulis, sebagai dokumentasi yang selama ini tidak pernah tercatat dengan rapi.
Hari ini, 15 Agustus 2026, tepat sepuluh tahun sejak aku pertama kali bekerja, dan aku baru menyadari, sepuluh tahun itu ternyata sulit ditelusuri.
Aku masih ingat hari pertamanya. 15 Agustus 2016, mulai bekerja di FEB Unpas sebagai Staf Penerbitan Jurnal Ilmiah. Waktu itu pekerjaannya sederhana, seputar penerbitan jurnal ilmiah.
Sepuluh tahun kemudian, pekerjaan itu masih ada, tetapi bentuknya sudah jauh berbeda. Sekarang aku mengelola lima jurnal sekaligus, Trikonomika, JRAK, JRBM, JRIE, dan Brainy. Perannya juga tidak hanya satu. Di kelima jurnal itu aku berperan sebagai admin OJS, layouter, sekaligus desainer grafis, termasuk mengurus tampilan front-end-nya.
Namun pekerjaan kantor itu ternyata hanya satu bagian dari cerita. Sejak 2019, aku juga menjalani pekerjaan sebagai freelancer, awalnya melalui Freelancer.com sebagai graphic designer. Dari sana berkembang ke proyek-proyek lain di luar kantor, mengelola Website Ekonomi FEB Unpas, Website DIM Unpas, dan Website Jahe Padjajaran.
Dan sekarang, di luar semua itu, aku sedang membangun dikiachmadp.work secara mandiri. Bukan proyek dari siapa pun, murni tempat aku belajar menjadi web developer, tempat menyimpan portofolio, dan tempat bereksperimen.
Kalau ditarik jauh ke belakang, titik awalnya sebenarnya bukan dari sini. Aku lulusan SMK Multimedia, lalu melanjutkan S1 Desain Komunikasi Visual di Universitas Teknologi Bandung, dan baru lulus pada tahun 2024 ini. Jadi awalnya aku murni seorang graphic designer. Bahkan proyek freelance pertama pun hanya seputar desain grafis.
Dari titik itu, semuanya melebar. Dari desain, aku mulai berurusan dengan OJS. Dari OJS, ke website, hosting, domain, database. Lalu ke sertifikasi, DOI, Crossref, dan berbagai kebutuhan digital lain yang awalnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan desain grafis.
Kalau dilihat kembali, ada satu pola yang terus berulang di sepanjang perjalanan itu. Aku belajar sendiri, setiap kali menemukan masalah yang perlu diselesaikan.
Aku tidak pernah menekuni satu bidang sejak awal lalu menjadi ahli di bidang itu. Yang terjadi justru sebaliknya. Ada masalah, ada kebutuhan pekerjaan, dan dari situ aku belajar apa pun yang diperlukan untuk menyelesaikannya.
Cara belajarnya pun beragam. Kadang melalui video YouTube, kadang berdiskusi dengan AI, tetapi yang paling sering justru belajar sambil langsung mengerjakan proyek yang berkaitan, atau learning by doing. Sampai sekarang pun polanya masih sama. Ada beberapa hal yang sedang aku pelajari secara bersamaan, data analyst, data scientist, AI engineering, AI context, AI agents, dan beberapa lagi yang bahkan aku sendiri sudah lupa menyebutkannya satu per satu.
Aku juga menyadari, aku tipe orang yang senang memikirkan struktur. Aku sering ingin pekerjaan berjalan sistematis, direncanakan dari awal hingga output-nya. Meskipun kenyataannya tidak selalu berjalan serapi itu, cara berpikirku tetap mengarah ke sana.
Kerja kantor berlangsung Senin sampai Jumat, pukul 8 pagi hingga 5 sore. Di luar itu, waktu istirahat dan waktu libur sering aku gunakan untuk belajar atau menyelesaikan pekerjaan lain. Bukan karena harus, tetapi karena memang ada banyak hal yang ingin aku dalami lebih jauh.
Konsekuensinya juga nyata. Beberapa kali kepala terasa penuh, fokus terpecah, karena terlalu banyak hal yang ingin dikerjakan dalam waktu yang sempit, dan dengan cara yang terstruktur. Itu bukan sesuatu yang aku banggakan, tetapi menjadi bagian dari kenyataan sepuluh tahun ini.
Yang membuat aku berhenti sejenak hari ini adalah kesadaran bahwa sepuluh tahun itu sudah berlalu, tetapi aku tidak benar-benar tahu persis apa saja yang sudah aku lewati.
Aku mengingat pola besarnya. Tetapi detail-detailnya, proyek apa yang selesai kapan, pelajaran apa yang muncul dari masalah yang mana, semuanya tersebar, tidak pernah tercatat dengan rapi.
Aku menyadari tidak semua aktivitas pekerjaan atau pembelajaran itu bisa ditelusuri hasilnya, apabila tidak pernah didokumentasikan.
Karena itu, di titik sepuluh tahun ini, aku memutuskan untuk mulai membuat logbook.
Bukan untuk menunjukkan sesuatu kepada orang lain. Melainkan supaya ke depannya, aku memiliki dokumentasi yang rapi, yang bisa dicek, yang bisa dihitung, yang bisa dilihat dan dibandingkan.
Supaya nanti, katakanlah sepuluh tahun lagi, tepat 15 Agustus 2036, aku bisa membuka data ini dan benar-benar mengetahui sejauh mana aku bertumbuh, sejauh mana aku berkembang, milestone apa saja yang telah aku lalui, dan proyek apa saja yang telah selesai di sepanjang perjalanan itu.
Tulisan ini adalah starting point-nya.
Bukan pencapaian, bukan sesuatu yang ingin dipamerkan. Hanya penanda, bahwa mulai hari ini, apa yang aku kerjakan dan aku pelajari akan mulai dicatat.
Aku belum tahu logbook ini akan berbentuk seperti apa sepuluh tahun dari sekarang. Tetapi aku tahu, tanpa mulai mencatat hari ini, aku akan berada di posisi yang sama seperti sekarang, mencoba mengingat-ingat sesuatu yang seharusnya sudah tersimpan.
yang Aku Pelajari
- Titik awal jarang menentukan ke mana sesuatu akan berkembang, yang lebih menentukan adalah kesediaan untuk terus belajar setiap kali menemukan masalah baru.
- Kemampuan beradaptasi dan belajar secara mandiri lebih sering terpakai dibandingkan keahlian di satu bidang spesifik.
- Tanpa dokumentasi, pertumbuhan yang sebenarnya nyata bisa terasa seperti tidak pernah terjadi.