CV yang Tidak Pernah Cukup
Sebuah CV yang harus terus diedit manual ternyata menjadi alasan aku memutuskan membangun website sendiri.
Sebuah CV yang harus terus diedit manual ternyata menjadi alasan aku memutuskan membangun website sendiri.
Apa yang membuat sebuah CV yang sudah rapi tiba-tiba terasa tidak cukup?
Saat itu aku sedang fokus mencari pekerjaan remote sebagai desainer grafis. Seperti kebanyakan orang, aku punya satu dokumen CV yang aku kirim ke mana-mana. Masalahnya baru terasa setelah beberapa bulan berjalan. Setiap kali ada proyek baru, klien baru, atau informasi yang perlu ditambahkan, aku harus membuka dokumennya lagi, mengedit manual, lalu menyimpannya ulang.
Awalnya ini terasa sepele. Tapi lama-lama aku sadar, ada sesuatu yang salah dengan cara ini. CV yang aku kirim minggu lalu belum tentu sama dengan versi yang aku punya sekarang. Aku jadi harus mengingat-ingat, versi mana yang terakhir aku kirim ke siapa. Semakin sering diedit, semakin besar juga kemungkinan ada bagian yang lupa diperbarui, atau format yang jadi tidak konsisten.
Aku sempat berpikir, mungkin ini memang wajar. Semua orang juga mengedit CV mereka dari waktu ke waktu. Tapi pertanyaannya bukan soal wajar atau tidak, melainkan soal efektif atau tidak. Setiap kali sebuah dokumen statis harus mengikuti sesuatu yang terus berubah, di situ akan selalu ada jeda antara kondisi sebenarnya dan apa yang tertulis.
Dari situ aku mulai berpikir berbeda. Masalahnya bukan pada format CV-nya, tapi pada sifatnya yang statis. Sebuah dokumen tidak bisa memperbarui dirinya sendiri. Yang aku butuhkan bukan CV yang lebih bagus desainnya, tapi sesuatu yang bisa terus hidup mengikuti kondisi terbaru, tanpa aku harus menyusunnya ulang dari nol setiap kali.
Dari sanalah keputusan untuk membangun website pribadi ini muncul. Bukan sebagai portofolio biasa, tapi sebagai pengganti peran CV manual. Isinya kurang lebih sama seperti CV, tapi disampaikan dengan cara yang tidak sekaku dokumen pada umumnya. Yang paling penting, ia bisa terus diperbarui mengikuti kondisi nyata, bukan versi yang membeku di satu waktu.
Yang menarik, keputusan ini datang bukan dari rencana belajar coding atau ingin menjadi web developer. Keputusan ini datang dari kebutuhan yang sangat sederhana, yaitu hanya karena aku lelah mengedit dokumen yang sama berulang-ulang. Tapi dari kebutuhan sesederhana itu, terbuka jalan yang jauh lebih panjang, yang baru aku sadari belakangan.
yang Aku Pelajari
- Masalah kecil yang berulang, seperti harus mengedit dokumen yang sama terus-menerus, kadang cukup kuat untuk menjadi alasan memulai sesuatu yang jauh lebih besar dari yang direncanakan.
- Kadang yang perlu diperbaiki bukan bentuk tapi sifatnya. Bentuk bisa tetap dipertahankan tapi sifatnya dibuat menjadi lebih adaptif.
- Kebutuhan nyata sering menjadi alasan belajar yang lebih kuat dibanding rencana belajar yang disusun dari awal.