Membangun Website Tanpa Pernah Belajar Coding
Sebuah proyek sederhana akhirnya menjadi pelajaran tentang perbedaan antara membuat sesuatu terlihat baik dan benar-benar menyelesaikannya hingga bisa digunakan.
Sebuah proyek sederhana akhirnya menjadi pelajaran tentang perbedaan antara membuat sesuatu terlihat baik dan benar-benar menyelesaikannya hingga bisa digunakan.
Bisakah seseorang tanpa latar belakang pemrograman menyelesaikan sebuah website sampai benar-benar tayang, hanya dengan bantuan AI?
Awal tahun ini, seorang dosen Ekonomi di FEB Unpas menghubungi aku untuk membuat website program studi, sebagai bagian dari kebutuhan akreditasi. Instruksinya sederhana: cukup landing page dengan beberapa informasi utama, profil program studi, sejarah singkat, dosen, dan kontak.
Latar belakangku bukan pemrograman. Aku lulusan Desain Komunikasi Visual, dan pekerjaan sehari-hari lebih banyak berurusan dengan tata letak dan desain grafis daripada kode. Tapi instruksi yang terdengar sederhana itu jadi titik awal aku mencoba sesuatu di luar kebiasaan: membangun website itu sendiri, dengan bantuan AI.
Landing page itu selesai dalam hitungan hari. React dan Tailwind CSS jadi pilihan, dibangun dengan bantuan AI, lalu di-hosting di Hostinger dengan paket paling dasar. Seminggu kemudian, website sudah tayang.
Yang tidak aku duga adalah bahwa itu baru permulaan.
Setelah proses akreditasi berjalan, kebutuhan berkembang. Klien minta halaman berita, halaman detail dosen, dan beberapa penyesuaian lain. Untuk seseorang yang kemampuan utamanya desain, ini bukan permintaan kecil. Website yang tadinya cukup jadi satu halaman statis, sekarang harus punya struktur data, halaman dinamis, dan cara mengelola konten yang terus bertambah.
Di titik ini aku mulai belajar hal-hal yang benar-benar baru: bagaimana database bekerja, bagaimana backend menghubungkan data ke tampilan, dan kenapa arsitektur sebuah website bisa berbeda jauh tergantung kebutuhannya.
Ada satu kendala teknis yang cukup menentukan arah project ini. Paket hosting yang aku pakai ternyata tidak mendukung Node.js, sehingga opsi framework modern yang tadinya aku pertimbangkan otomatis tidak bisa dipakai. Pilihan yang tersisa adalah PHP dan MySQL, dua hal yang sebelumnya cuma aku dengar namanya tanpa pernah benar-benar mempelajarinya.
Proses migrasi dari landing page React menjadi sistem PHP dan MySQL yang utuh, jadi bagian paling menantang. Bukan cuma soal sintaks bahasa baru, tapi memahami cara kerja sistem secara keseluruhan: bagaimana data tersimpan, bagaimana halaman dibangun di server, dan bagaimana semuanya harus tetap bisa diakses dengan cepat dan aman.
AI banyak membantu di sepanjang proses ini, tapi bantuannya tidak menggantikan keharusan untuk memahami apa yang sedang terjadi. Setiap kali muncul error atau hasil yang tidak sesuai, aku tetap harus mengerti logikanya sendiri sebelum bisa memperbaikinya. Di sinilah aku sadar bahwa mendesain tampilan visual dan menyelesaikan sebuah produk sampai benar-benar bisa dipakai, adalah dua keterampilan yang berbeda.
Setelah fitur-fitur utama selesai, permintaan berikutnya datang: optimasi SEO untuk setiap halaman unik, termasuk halaman detail berita dan detail dosen. Sesuatu yang lagi-lagi belum pernah aku pelajari sebelumnya, dan lagi-lagi harus dipelajari sambil jalan.
Sekarang, website itu sudah tayang dan cukup stabil. Aku masih yakin ada banyak celah dan hal yang bisa diperbaiki. Tapi ada satu hal yang terasa jelas.
ini pertama kalinya aku menyelesaikan sebuah website dari awal sampai benar-benar bisa dipakai orang lain, bukan cuma membuat desainnya saja.
Ada cukup banyak kritik terhadap istilah vibe coding, cara membangun sesuatu dengan bantuan AI tanpa latar belakang pemrograman formal. Sebagian orang menganggapnya jalan pintas yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Menurutku, itu tergantung caranya. Selama masih berusaha memahami dasar dan logika di balik setiap keputusan, bukan cuma menyalin apa pun yang disarankan AI, prosesnya tetap valid sebagai cara belajar dan bekerja.
yang Aku Pelajari
- Menyelesaikan sebuah pekerjaan sampai benar-benar bisa dipakai, ternyata keterampilan yang berbeda dari sekadar membuat desainnya.
- Keterbatasan teknis, seperti paket hosting yang tidak mendukung *Node.js*, kadang justru menentukan arah belajar yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.
- AI bisa membantu mempercepat proses, tapi tidak menggantikan keharusan memahami logika di baliknya.