Mampu, Tapi Belum Tentu Siap
Aku belajar bahwa merasa mampu dan benar-benar siap adalah dua hal yang berbeda, terutama ketika kemampuan itu harus diuji dalam situasi yang tidak biasa.
Aku belajar bahwa merasa mampu dan benar-benar siap adalah dua hal yang berbeda, terutama ketika kemampuan itu harus diuji dalam situasi yang tidak biasa.
Awalnya aku sama sekali tidak tahu soal pelatihan ini. Bukan sesuatu yang aku cari sendiri, bukan juga sesuatu yang aku rencanakan.
Meskipun begitu, aku menyambutnya dengan antusias. Ada dorongan yang selalu muncul setiap kali ada kesempatan mempelajari sesuatu, apalagi jika di ujungnya ada ujian yang bisa mengukur sejauh mana pemahaman yang aku kuasai sebenarnya.
Excel bukan hal baru bagiku, dipakai hampir setiap hari untuk berbagai pekerjaan. Tapi justru di situ letak rasa penasarannya, apa masih ada yang belum aku ketahui dari sesuatu yang sudah sering aku gunakan.
Ternyata ada.
Selama pelatihan, aku menemukan beberapa pengaturan dan cara kerja Excel yang selama ini tidak pernah terpikirkan untuk dicari tahu sendiri. Bukan hal besar, tapi cukup untuk menyadarkan bahwa terbiasa menggunakan sesuatu tidak sama dengan benar-benar memahaminya secara menyeluruh.
Pelatihan berlangsung dua hari. Hari kedua, aku diminta mengikuti ujian lebih dulu, jadi contoh pelaksanaan bagi peserta lain yang belum pernah mengikuti ujian semacam ini.
Di sinilah bagian yang paling berkesan.
Selama proses belajar, aku bisa mengerjakan hampir semua soal latihan dengan cukup mudah. Tapi mudah mengerjakan soal ternyata tidak sama dengan siap menghadapi ujian, terutama ketika harus dikerjakan sendirian, di depan ruangan, disaksikan oleh peserta lain.
Rasa gugup dan keringat dingin tetap muncul, bukan karena aku tidak menguasai materinya, melainkan karena mentalku tidak pernah benar-benar dipersiapkan untuk situasi seperti itu.
Ujian selesai, hasil langsung keluar: 950 dari 1000. Nilai yang aku syukuri, tapi bukan itu bagian yang paling aku apresiasi dari pengalaman ini.
Yang lebih aku hargai adalah keberanian untuk maju lebih dulu, jadi semacam kelinci percobaan yang hasilnya nanti dipelajari oleh peserta lain.
Melawan rasa gugup dalam situasi yang tidak sepenuhnya bisa dipersiapkan, ternyata butuh mental tersendiri, terlepas dari seberapa siap kemampuan teknis sebenarnya.
Dari pengalaman ini aku menyadari, kemampuan dan kesiapan adalah dua hal yang berbeda.
Aku cukup mampu menyelesaikan soal-soal ujiannya. Tapi kesiapan mental untuk berada di posisi yang diawasi, dievaluasi, dan menjadi contoh bagi orang lain, ternyata tidak otomatis datang bersamaan dengan kemampuan itu.
Sertifikat yang aku dapatkan penting, tapi bukan tujuan akhirnya.
Yang lebih ingin aku bawa dari pengalaman ini adalah kesiapan mental yang sama, untuk situasi-situasi tidak terduga lain yang mungkin akan aku hadapi di masa yang akan datang.
yang Aku Pelajari
- Terbiasa menggunakan sesuatu tidak sama dengan memahaminya secara menyeluruh, selalu ada ruang untuk belajar ulang meskipun materinya terasa familiar.
- Kemampuan teknis dan kesiapan mental adalah dua hal yang terpisah, keduanya perlu dilatih dengan cara yang berbeda.
- Keberanian mengambil posisi yang belum pasti, seperti menjadi yang pertama diuji, sering kali lebih berharga daripada hasil ujian itu sendiri.