Mencoba Mengalahkan Lawan yang Sudah Unggul
Jika ada orang lain yang sudah lebih unggul dari kita, apa yang masih bisa kita lakukan untuk mengubah keadaan?
Jika ada orang lain yang sudah lebih unggul dari kita, apa yang masih bisa kita lakukan untuk mengubah keadaan?
Ada situasi di mana hasilnya terasa sudah ditentukan bahkan sebelum kita sempat ikut terlibat.
Situasi itu aku temui di kontes desain pertamaku, yaitu kontes desain kemasan yang aku ikuti di Freelancer.com. Kliennya bernama David B., berasal dari Australia, membuka kontes untuk membuat desain kemasan untuk produk TowBall. Saat itu aku masih baru di platform ini, belum pernah menang satu kontes pun, dan belum pernah punya satu pun review dari klien.
Total submission yang masuk pada kontes ini sudah lebih dari 30 pada saat aku memutuskan ikut bersaing. Satu di antaranya, milik peserta asal India, sudah mendapat nilai 5 bintang dari klien lengkap dengan mockup 3D yang cukup detail.
Melihat sudah ada peserta dengan nilai sempurna, harusnya membuat aku ragu untuk melanjutkan. Tapi yang aku rasakan justru sebaliknya. Desain dan mockup yang dibuat peserta itu masih terasa bisa disaingi, jadi aku memutuskan tetap mencoba.
Aku mulai membuat desain sesuai brief yang diberikan klien, lalu membuat mockup sendiri menggunakan Blender 3D. Agar hasilnya lebih detail dari kompetitor, aku menyertakan TowBall di dalam kemasannya, bukan hanya kemasan kosong, dengan harapan klien lebih mudah menilai bagaimana produk sebenarnya akan terlihat di dalam boks.
Submission aku kirim pada 14 Juni 2024. Setelahnya aku hanya bisa menunggu sambil berharap klien belum membuat keputusan final.
Pada 27 Juni 2024, notifikasi masuk. Desainku juga dinilai 5 bintang, bersaing langsung dengan submission yang sudah lebih dulu sempurna. Tidak lama setelah itu, klien menghubungi dan meminta revisi, untuk melihat sejauh mana desainku bisa memenuhi kriteria yang dia harapkan.
Di titik ini aku sadar, permintaan revisi bukan cuma soal teknis desain. Itu juga kesempatan untuk memastikan posisi sebelum mengeluarkan usaha lebih jauh.
Aku memberikan penawaran kepada klien untuk memastikan aku sebagai pemenang kontes terlebih dahulu, baru setelah itu aku akan mengerjakan revisi sebanyak yang dia butuhkan. Bukan permintaan yang biasa diajukan peserta kontes pada umumnya, tapi terasa masuk akal untuk aku coba.
Hanya berselang beberapa jam, klien menyetujui tawaran itu. Aku resmi menjadi pemenang kontes pertamaku di Freelancer.com.
Kemenangan itu memberi 100 AUD, saat itu setara kurang lebih 1 juta rupiah, dan review pertama di profilku dengan nilai 5 bintang beserta testimoni positif. Nilai uangnya tidak terlalu besar, tapi review itu menjadi modal paling berharga yang aku punya saat itu, bukti nyata bahwa aku bisa diandalkan klien lain di masa yang akan datang.
Tidak lama setelah itu, David B. membuka kontes lanjutan dengan harga yang sama, membuat mockup kontainer penyimpanan untuk boks TowBall yang sebelumnya sudah aku buat. Waktu yang tersisa untuk kontes ini tinggal dua sampai tiga hari, jadi aku langsung membuat mockup dan submit di hari yang sama, lalu aku menawarkan strategi serupa lewat chat yang sebelumnya kita gunakan untuk tawar menawar kontes desain kemasan yaitu menangkan dulu, revisi belakangan. Klien kembali setuju dalam hitungan jam.
Dari satu klien yang sama, dalam waktu berdekatan, aku mendapatkan 200 AUD dan kepercayaan untuk mengerjakan proyek-proyek lain yang dia miliki secara langsung tanpa harus melalui kontes lagi.
Dari pengalaman ini aku menyadari, kualitas desain dan keberanian menegosiasikan posisi adalah dua hal yang berbeda, tapi sama-sama menentukan hasil akhirnya. Desain yang baik membuat aku layak bersaing, tapi keberanian untuk meminta kepastian sebelum bekerja lebih jauh, itu yang akhirnya membuat aku benar-benar menang.
Kemenangan pertama ini bukan cuma soal 100 AUD atau satu review bintang lima. Ini menjadi titik awal yang membuka banyak proyek lain setelahnya, dan mengajarkan bahwa bersaing di kontes desain tidak selalu soal siapa yang paling jago, tapi juga soal siapa yang paling berani mengambil posisi yang tepat pada waktu yang tepat.
yang Aku Pelajari
- Ada orang lain yang tampak sudah sempurna bukan alasan untuk berhenti mencoba, selama masih ada ruang untuk membuat sesuatu yang lebih baik.
- Permintaan tambahan dari orang lain bisa jadi kesempatan untuk memastikan posisi lebih dulu, bukan hanya sekedar dikerjakan begitu saja.
- Bukti kepercayaan dan apresiasi dari orang lain sering kali lebih berharga daripada hasil materi itu sendiri, karena menjadi modal untuk mendapatkan kepercayaan berikutnya.