Setiap Kali Stuck, Ada Tools Baru
Kenapa sebuah tools benar-benar terasa berguna justru setelah aku kehilangan sesuatu?
Kenapa sebuah tools benar-benar terasa berguna justru setelah aku kehilangan sesuatu?
Aku menghapus satu fitur dari website, lalu sadar bahwa aku tidak tahu cara mengembalikannya.
Aku hanya ingin kembali ke kondisi sebelumnya, tapi ternyata aku tidak tahu caranya.
Kalau dipikir-pikir, kejadian itu sebenarnya bukan cuma tentang satu fitur yang hilang. Kejadian itu membuatku melihat kembali bagaimana website ini dibangun, dan bagaimana sebenarnya caraku belajar selama prosesnya.
Pada saat itu aku sedang cukup tekun mempelajari AI dan mencoba beberapa model. Dari sana muncul keyakinan bahwa mungkin aku bisa membuat website portfolio hanya dengan berbincang dengan AI.
Aku mulai dengan prompt sederhana.
Tidak ada perencanaan. Aku belum tahu framework apa yang seharusnya digunakan, bagaimana struktur proyek yang baik, bahkan belum benar-benar paham apa yang sedang aku bangun.
Aku langsung meminta kode.
Hasilnya dua file, satu HTML dan satu CSS.
Lalu aku diam.
Aku tidak tahu harus melakukan apa dengan dua file itu. Aku juga tidak tahu bagaimana cara mengganti isi website.
Dari situ aku mulai membaca.
Tidak banyak yang benar-benar aku pahami waktu itu. Tapi setidaknya aku menemukan VSCode. Untuk pertama kalinya aku punya tempat untuk membuka, membaca, dan mengubah kode yang sebelumnya hanya terasa seperti sesuatu yang diberikan AI.
Aku kemudian mulai mencari tahu tentang framework. Dari beberapa rekomendasi, aku menemukan React dan TailwindCSS yang terasa cocok untuk website portfolio sederhana.
Aku membangun ulang dari nol.
Kali ini aku meminta penjelasan yang jauh lebih rinci. Hasilnya bukan lagi dua file, tetapi sebuah folder dengan banyak file. Di titik itu aku mulai berkenalan dengan terminal dan localhost.
Secara visual, hasilnya sudah cukup mendekati apa yang aku bayangkan.
Tapi ada masalah lain.
Kontennya.
Setiap kali ingin mengubah sebuah teks, aku harus masuk ke kode. Saat itu aku belum tahu bahwa cara seperti ini punya istilah, hardcode, dan bahwa pendekatan tersebut bisa menyulitkan ketika proyek mulai berkembang.
Aku hanya tahu satu hal, aku lelah membuka kode hanya untuk mengganti satu kata.
Dari kebutuhan itu aku menemukan JSON.
Akhirnya konten dan kode bisa dipisahkan. Aku mulai mengumpulkan data yang ingin ditampilkan, menyusunnya dalam struktur yang lebih rapi, lalu membuat website membaca data tersebut.
Untuk sementara, masalah selesai.
Sampai aku punya masalah berikutnya.
Aku ingin menampilkan lebih banyak data dalam dua bahasa sekaligus. Struktur yang aku buat mulai terasa tidak nyaman. Aku belum menemukan cara yang menurutku tepat, jadi aku lanjut saja.
Tidak lama kemudian aku stuck lagi.
Kali ini karena aku ingin menambahkan halaman baru.
Sejauh yang aku pahami waktu itu, cara yang sedang aku gunakan tidak membuat hal tersebut terasa mudah.
Lalu aku menemukan Next.js.
Tiba-tiba membuat halaman baru bukan lagi sesuatu yang perlu aku pikirkan terlalu jauh.
Di tengah proses itu aku juga menemukan Vercel.
Gratis, terhubung dengan proyek, dan website yang selama ini hanya hidup di localhost akhirnya bisa dilihat orang lain.
Waktu itu aku belum terlalu memikirkan alamat website yang diberikan Vercel. Sampai akhirnya aku sadar bahwa alamatnya terlalu panjang dan tidak terasa seperti alamat portfolio yang ingin aku gunakan.
Aku mulai mencari domain.
Aku menemukan ekstensi .work, dan kebetulan harganya hanya puluhan ribu untuk tiga tahun.
Dari situlah alamat website ini lahir.
Sampai akhirnya terjadi kejadian yang membawa aku kembali ke GitHub.
Aku menghapus sebuah fitur.
Lalu berubah pikiran.
Aku ingin mengembalikannya, tapi tidak tahu bagaimana.
Padahal tools untuk melakukan itu sebenarnya sudah lama ada di tanganku.
Aku membuat akun GitHub pada 22 Januari 2026. Repository pertama yang aku unggah bukan website ini, melainkan Website Permen Jahe Padjajaran, sebuah proyek klien.
Tidak lama setelah itu aku juga sempat membuat repository untuk website ini.
Dua kali.
Keduanya sekarang sudah aku arsipkan.
Masalahnya bukan karena repository tersebut rusak. Masalahnya justru karena aku belum memahami GitHub.
Aku memperlakukannya seperti tempat penyimpanan.
Aku memasukkan folder ke sana, lalu selesai.
Aku tahu GitHub itu tempat menyimpan kode. Aku tahu sedikit cara menggunakannya. Tapi aku belum memahami bagian yang jauh lebih penting, bahwa setiap perubahan yang aku lakukan bisa dicatat, dibandingkan dengan versi sebelumnya, ditelusuri, dan dikembalikan.
Aku baru memahami semua itu setelah kehilangan sesuatu.
Kejadian tersebut akhirnya membuatku membaca Git dan GitHub dari awal lagi.
Setelah mulai paham, aku tidak melanjutkan repository lama. Aku mengarsipkannya dan memulai repository baru pada 7 Mei 2026.
Bukan karena kode sebelumnya bermasalah.
Aku hanya merasa cara kerjaku sudah berubah, dan aku ingin catatan baru itu dimulai dari titik ketika aku mulai benar-benar memahami apa yang sedang aku lakukan.
Sejak saat itu alurnya menjadi sederhana.
Aku menulis kode di VSCode.
Aku mengirim perubahannya ke GitHub.
Vercel kemudian memperbarui website secara otomatis.
Aku tidak pernah merencanakan workflow seperti itu sejak awal. Semuanya muncul sedikit demi sedikit karena ada masalah yang perlu diselesaikan.
Tapi setelah merasakannya, aku mulai sulit membayangkan bekerja tanpa alur tersebut.
Kalau aku lihat kembali semuanya, ternyata polanya cukup konsisten.
Aku tidak pernah memilih sebuah tools lebih dulu, lalu mencari masalah yang bisa diselesaikan dengannya.
Selalu sebaliknya.
VSCode datang karena aku bingung harus membuka dan mengedit file di mana.
JSON datang karena aku lelah mengubah kode hanya untuk mengganti konten.
Next.js datang karena aku tidak tahu bagaimana menambahkan halaman.
Vercel datang karena aku ingin websiteku bisa dilihat orang lain.
Dan GitHub sebenarnya sudah ada sejak awal, tetapi baru benar-benar aku pahami setelah aku kehilangan sesuatu yang ingin kukembalikan.
Aku sempat berpikir cara belajar seperti ini boros.
Aku sudah beberapa kali membangun ulang website ini dari nol. Banyak pekerjaan yang akhirnya tidak digunakan lagi. Beberapa proyek juga sudah aku tinggalkan dan mulai ulang dengan cara yang berbeda.
Kalau dilihat dari luar, mungkin itu terlihat seperti membuang waktu.
Tapi aku mulai tidak yakin bahwa ada cara yang jauh lebih efisien lagi untuk proses belajar otodidak.
Kalau sejak awal aku diberi daftar lengkap semua tools yang akan digunakan, VSCode, Git, GitHub, React, Next.js, JSON, Vercel, dan semuanya, aku mungkin bisa menghafal nama dan fungsinya.
Tapi aku belum tentu tahu kapan harus menggunakannya.
Dua repository GitHub yang sekarang aku arsipkan menjadi bukti paling sederhananya.
Aku sudah punya akses ke GitHub.
Tapi aku belum benar-benar mengerti kegunaannya.
Ternyata menemukan sebuah tools dan memahami sebuah tools adalah dua hal yang berbeda.
Jarak di antaranya kadang bukan beberapa jam atau beberapa hari.
Bisa berbulan-bulan.
Website ini sendiri masih belum selesai.
Pernah aku tinggalkan cukup lama tanpa disentuh sama sekali. Lalu aku kembali lagi. Sampai sekarang pun masih terus diperbaiki, meskipun sering kali hanya satu bagian kecil dalam satu waktu.
Dan mungkin memang seperti itu cara website ini akan terus berkembang.
Bukan karena sejak awal aku tahu semua yang kubutuhkan.
Tapi karena setiap kali aku stuck, aku menemukan sesuatu yang membuatku bisa lanjut lagi.
yang Aku Pelajari
- Menemukan sebuah *tools* dan memahami sebuah *tools* adalah dua hal yang berbeda. Jarak perbedaan di antaranya cukup jauh.
- Sebuah *tools* benar-benar terasa berguna ketika aku mengalami sendiri masalah yang bisa diselesaikan dengan *tools* tersebut.
- Memulai ulang dari nol tidak selalu berarti gagal. Kadang itu hanya berarti cara kerjaku sudah berubah.